Sabtu, 27 April 2013

Dialog Cinta








Disuatu malam, tepatnya 13 bulan Ramadhan 1430/2009
Ada seorang sarjana Universitas Surabaya bernama Aji menghubungi seorang penulis bernama Dewi melalui HP
Diantara permasalahan dalam dialog tersebut, pokok bahasannya adalah cinta


“Saya mengetahui identitas anda melalui shodiq.com, dimana posisi anda adalah seorang Redaktur Misteri Cinta
Karena hal itulah saya ingin bertanya kepada anda, Apakah cinta itu?”
Tanya sang penelefon yang bernamakan Aji



“Terima kasih sebelumnya telah berkenan menghubungi kami yang dipercaya oleh Ustad Muh.Shodiq untuk mengembangka Redaksi Misteri Cinta.
Sebelum menjawab, saya minta maaf apabila jawaban saya nantinya kurang berkenan dan kurang memuaskan hati saudara.
Apakah saudara pernah membaca tulisan kami di Misteri cinta?”
Tanya balik sang Penulis tersebut



“Saya belum sempat membacanya, yang jelas saya ingin langsung mendengarnya dari anda, karena yang saya tahu… Ketika kata manis melayang kepada lain jenis dengan segudang janji, itu bukan cinta... tapi Rayuan”
Kata Aji mencoba menjelaskan



Saat tangan mulai merangkul dan memeluk pasangan dengan mesra
Itu pula bukan cinta ... tapi karena takut kehilangan
Ketika rasa takut kehilangan semakin menghantui perasaan
Itu juga bukan cinta ... melainkan ingin bersama
Saat kecupan mendarat di pipi dan bibir pasangan kita
Itu juga bukan cinta  ... tapi telah mengikuti langkah dan jejak syetan
Lalu apakah cinta?
Tambahnya


“Rupanya saudara seorang puitikus
Pertanyaan anda pun sangat menarik dan bagus walau intinya hanya satu, yaitu apa itu cinta
Kalau saudara ingin tahu makna cinta dari versi saya, mungkin saya bisa berikan sedikit diskripsi, tapi bukan memberikan difinisi
Memberikan difinisi sama halnya dengan memberikan batasan ruang dan waktu terhadap sesuatu
Begitu pula dengan cinta, memberikan difinisi tentang cinta, sama halnya dengan memberikan batasan terhadap makna cinta, padahal setahu saya bahwa cinta tidak terbatas”
Ungkap Dewi mencoba menjelaskan




“Lalu menurut anda apa itu cinta?”
Tanya Aji kembali dengan penuh rasa penasaran



“Sebagaimana jawaban saya tadi, saya tidak akan menjawab dengan arah difinitif tetapi kearah diskriptif saja
Perlu juga anda ketahui bahwa posisi saya dimesteri cinta bukan karena kemampuan saya, tapi karena keinginan untuk belajar
Selama ini kita pahami sebagai hasrat untuk bersama dan memiliki, ketika ada seseorang mengatakan kepada lain jenis
“I Love You”
Maka mereka akan memahami dengan isyarat saya mencintaimu
Pertanyaan saya, apakah kita tidak tertipu dengan kalimat tersebut atau kita berusaha menipu diri kita lantaran ikut alur pemahaman yang belum jelas tentang cinta?
Saya pikir anak 6 SD juga bisa mengatakannya, apakah perkataan itu beda?”
Jawab Dewi menjelaskan



“Ya, pasti beda, Anak kecil dengan orang dewasa ‘kan pasti beda dan kalau anak kecil yang mengatakan pasti tidak akan dipercaya, tetapi kalau orang dewasa, pastilah dipercaya”
Jawab Aji



“Kalau saya memahami ucapan itu sama saja hanya lain subjek saja,
Masalah kita kenapa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan, sebagaimana pertanyaan saudara, apa itu cinta bukan siapa yang bercinta atau siapa itu cinta
Kalau saudara bertanya tentang difinisinya, saya jawab kalau saya tidak mampu menjawab pertanyaan yang agung itu”
Jelas Dewi



“Mengapa anda mengatakan itu pertanyaan agung?”
Tanya Aji



“Cinta itu sesuatu yang suci, kita terlahir karena cinta, semestinya kita memiliki prioritas awal dalam cinta
Objek yang paling penting untuk mendapatkan prioritas tertinggi dalam cinta kita dan semestinya cinta terlahir dari hati yang suci, tulus, ikhlas
Rabi’ah al-adawiyah yang kita pahami sebagai sosok yang berpahamkan cinta hanya mampu memberikan gambaran, bukan difinisi tentang cinta
Khalil Gibran sosok manusia yang menghias hidup dengan syair cinta juga tidak pernah memberikan pengertian mutlak tentang cinta
Mereka hanya merasakan dan menikmati serta menggambarkannya”
Jawab Dewi



“Maaf, waktu saya habis lain kali saya hubungi lagi seputar cinta”
Pinta Aji


“Ok, Terima kasih atas silaturahminya via telfon”
Jawab Dewi menutup dialog tersebut




Kalau Allah berkehendak, saya juga akan memberikan jawaban seputar cinta karena apa yng kita bahas mulai tadi hanyalah appersepsi, belum masuk ke pokok bahasan



***



Pada dialog diatas, kita tidak menemui kepuasan makna tentang cinta, karena memang selama ini cinta hanya digambarkan dengan hal-hal yang indah saja, bagaimana kalau misalnya ada seorang pria mencintai gadis yang dinikahkan dengan orang lain, sementara si gadis juga mencintai pria tersebut ?

Apakah itu cinta hakiki ?
Cinta yang tidak harus memiliki atau bukan cinta melainkan hanya hasrat ingin bersama yang tidak tercapai?


Diatas juga telah dicontohkan dengan perkataan I Love You yang berasal dari seorang dewasa dan anak dibawah umur
Dikatakan oleh Aji kalau perkataan yang diucap anak kecil beda dengan yang dikatakan orang dewasa
Kalau ucapan sama, hanya makna yang mengatakan mungkin berbeda



Saudaraku, jangan terlalu mudah membuka jendela hati untuk mempercayai lisan y ang mengatakan Cinta kepada kita, karena itu belum tentu benar
Bisa saja itulah permainan dalam hidup yang harus disikapi
Bisa juga hanya sebatas uji coba, tetapi percayalah pada hati yang mengatakan I Love You, sebab sebentar lagi saudara akan tersenyum dalam ketenagan dan kebahagiaan
Bukan dalam tangis memilukan



Semoga Definisi singkat ini dapat bermanfaat



♥♥
Referensi :
Jum'at, 18 September 2009
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar