Minggu, 05 Mei 2013

Berbicara Tentang Cinta





~*~  Berbicara Tentang Cinta  ~*~






Anakku,
Begitu sering kau bicara tentang cinta


Cinta kepada istri
Cinta kepada anak
Cinta kepada agama
Cinta kepada bangsa
Cinta kepada filosofi
Cinta kepada rumah
Cinta kepada kebenaran
Cinta kepada Tuhan


Apakah isi, atau esensi, dari cintamu itu?


Kau bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama...


Apakah benar begitu, anakku?


"ANAKKU,
mari kita bicara tentang cinta

Cinta apa yang kau miliki?"


Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya

akan aku dengarkan baik-baik setiap hikmah yang menyemburat seperti cahaya



Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar

Agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan

Simpan pertanyaanmu untuk nanti,
karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal


Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak


Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu

Satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta


Lihat batang bunga mawar itu


Dia punya potensi untuk mempersembahkan bunga merah dan harum yang semerbak

Namun jika batang itu tak pernah ditanam,
Tak akan pernah mawar itu menghiasi kebunmu

Maka, hanya dengan membuka diri untuk tumbuhnya akar dan daunlah,
batang mawar itu akan melahirkan bunga mawar yang harum



Demikian juga dengan hatimu, anakku

Kau harus membukanya, agar potensi cinta yang terkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmu dengan kedamaian




Anakku, begitu sering kau bicara tentang cinta

Jadi
Apakah arti cinta bagimu, anakku?

Mungkin di desamu kau punya seekor kuda

Begitu sayangnya kau pada kuda itu


Setiap hari kau beri makan, minum, kau rawat bulunya, kau bersihkan, kau ajak jalan-jalan

Seolah kuda itu telah menjadi bagian dari hidupmu,
Seperti saudaramu


Kau mencintai kuda itu sepenuh hati

Namun, suatu ketika datang orang yang ingin membelinya dengan harga yang fantastis


Hatimu goyah dan kau pun menjualnya


Cintamu tidak sepenuh hati,
karena kau rela menjual cinta


Kau mencintai kuda, karena kegagahannya membuatmu bangga dan selalu senang ketika menungganginya


Namun, ketika datang harta yang lebih memberikan kesenangan

Kau berpaling.
Kau cinta karena kau mengharapkan sesuatu dari yang kau cintai


Kau cinta kudamu,
karena mengharapkan kegagahan

Cintamu berpaling kepada harta,
Karena kau mengharapkan kekayaan

Ketika keadaan berubah,
berubah pula cintamu

Kau sudah punya istri

Begitu besar cintamu kepadanya

Bahkan kau bilang,
Dia adalah pasangan sayapmu


Tak mampu kau terbang jika pasangan sayapmu sakit


Cintamu adalah cinta sejati,
sehidup semati

Namun, ketika kekasihmu sedang tak enak hati yang keseratus kali

Kau enggan menghiburnya

Kau biarkan dia dengan nestapanya

Karena sudah biasa


Ketika dia sakit yang ke 50 kali, perhatianmu pun berkurang

Tidak seperti ketika pertama kali kau bersamanya


Ketika dia berbuat salah yang ke 10 kali

Kau pun menjadi mudah marah dan kesal

Tidak seperti pertama kali kau melihatnya,
Kau begitu pemaaf


Kelak ketika dia sudah keriput kulitnya,
Akankah kau cari pengganti dengan alasan dia tak mampu mendukung perjuanganmu lagi?


Kalau begitu,
maka cintamu adalah cinta berpengharapan


Kau mencintainya
karena dia memberi kebahagiaan kepadamu

Kau mencintainya
karena dia mampu mendukungmu


Ketika semua berubah,
berubah pula cintamu


Kau punya sahabat


Begitu sayangnya kau kepadanya

Sejak kecil kau bermain bersamanya
hingga dewasa kau dan dia masih saling membantu, melebihi saudara


Kau pun menyatakan bahwa dia sahabat sejatimu

Begitu besar sayangmu kepadanya, tak bisa digantikan oleh harta

Namun suatu ketika dia mengambil jalan hidup yang berbeda dengan keyakinanmu

Setengah mati kau berusaha menahannya

Namun dia terus melangkah,
karena dia yakin itulah jalannya


Akhirnya, bekal keyakinan dan imanmu menyatakan bahwa dia bukan sahabatmu,
bukan saudaramu lagi

Dan perjalanan kalian sampai di situ


Kau mencintainya,
karena dia mencintaimu,
sejalan denganmu


Kau mendukungnya, mendoakannya, membelanya, mengunjunginya,
karena dia seiman denganmu


Namun ketika dia berubah keyakinan,
Hilang sudah cintamu

Cintamu telah berubah


Kau memegang teguh agamamu

Begitu besar cintamu kepada jalanmu


Kau beri makan fakir miskin
Kau tolong anak yatim,
Tak pernah kau tinggalkan ibadahmu dengan harapan kelak kau bisa bertemu Tuhanmu


Namun, suatu ketika orang lain menghina Nabimu

Kau pun marah dan membakar tanpa ampun


Apakah kau lupa bahwa jalanmu mengajak untuk mengutamakan cinta dan maaf?

Dan jangankan orang lain yang menghina agamamu,
saudaramu yang berbeda pemahaman saja engkau kafirkan, engkau jauhi, dan engkau halalkan darahnya


Bukankah Tuhanmu saja tetap cinta kepada makhluk-Nya yang seperti ini

Meskipun mereka bersujud atau menghina-Nya?


Kau cinta kepada agamamu,
tapi kau persepsikan cinta yang diajarkan oleh Tuhanmu dengan caramu sendiri



Anakku, selama kau begitu kuat terikat kepada sesuatu dan memfokuskan cintamu pada sesuatu itu

Selama itu pula kau tidak akan menemukan True Love


Cintamu adalah Selfish Love

Cinta yang mengharapkan

Cinta karena menguntungkanmu

Cinta yang akan luntur ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah

Dengan cinta seperti ini kau ibaratnya sedang mengaspal jalan


Kau tebarkan pasir di atas sebuah jalan untuk meninggikannya

Lalu kau keraskan dan kau lapisi atasnya dengan aspal


Pada awalnya tampak bagus, kuat dan nyaman dilewati


Setiap hari kendaraan lewat di atasnya


Dan musim pun berubah,
ketika hujan turun dengan derasnya dan truk-truk besar melintasinya


Lapisannya mengelupas dan lama-lama tampak lah lobang di atas jalan itu


Cinta yang bukan True Love adalah cinta yang seperti ini

Yang akan berubah ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah


Kau harus memahami hal ini, Anakku




Sekarang lihatlah,
bagaimana Tuhanmu memberikan cinta-Nya


Dia mencintai setiap yang hidup

Dengan cinta (rahmaniyyah) yang sama,
tidak membeda-bedakan


Manusia yang menyembah-Nya dan manusia yang menghina-Nya

Semua diberi-Nya kehidupan


Kekuasaan-Nya ada di setiap yang hidup


Dia tidak meninggalkan makhluk-Nya, hanya karena si makhluk tidak lagi percaya kepadanya



Jika Dia hanya mencintai mereka yang menyembah-Nya saja,
Maka Dia pilih kasih

Dia memberi cinta yang berharap, mencintai karena disembah

Dia tidak begitu,
dia tetap mencintai setiap ciptaan-Nya

Itulah "True Love"


“Cinta yang tak pernah berubah, walau yang dicintai berubah”


Itulah cinta kepunyaan Tuhan





Anakku, kau harus menyematkan cinta sejati ini dalam dirimu


Tanam bibitnya
Pupuk agar subur
Dan tebarkan bunga dan buahnya ke alam sekitarmu

Dan kau perlu tahu, anakku

Selama kau memfokuskan cintamu pada yang kau cintai

Maka selama itu pula kau tak akan pernah bisa memiliki cinta sejati, True Love



Cinta sejati hanya kau rasakan,
ketika kau melihat Dia dalam titik pusat setiap yang kau cintai

Ketika kau mencintai istrimu,
bukan kecantikan dan kebaikan istrimu itu yang kau lihat

Tapi yang kau lihat


"Ya Allah!
Ini ciptaan-Mu, sungguh cantiknya.
Ini kebaikan-Mu yang kau sematkan dalam dirinya"



Ketika kau lihat saudaramu entah yang sejalan maupun berseberangan

Kau lihat pancaran Cahaya-Nya dalam diri mereka yang tersembunyi dalam misteri jiwanya

Kau harus bisa melihat Dia dalam setiap yang kau cintai,
Setiap yang kau lihat


Ketika kau melihat makanan,
kau bilang

"Ya Allah, ini makanan dari-Mu.
Sungguh luar biasa!"


Ketika kau melihat seekor kucing yang buruk rupa

Kau melihat kehidupan-Nya yang mewujud dalam diri kucing itu


Ketika kau mengikuti sebuah ajaran,
Kau lihat Dia yang berada dibalik ajaran itu,
Bukan ajaran itu yang berubah jadi berhalamu


Ketika kau melihat keyakinan lain,
Kau lihat Dia yang menciptakan keyakinan itu

Dg segala rahasia dan maksud yang kau belum mengerti


Ketika kau bisa melihat Dia,
kemanapun wajahmu memandang

Saat itulah kau akan memancarkan cinta sejati kepada alam semesta

Cintamu tidak terikat & terfokus pada yang kau pegang


Cintamu tak tertipu oleh baju filosofi, agama, istri dan harta benda yang kau cintai


Cintamu langsung melihat titik pusat dari segala filosofi, agama, istri dan harta benda,
dimana Dia berada di titik pusat itu


Cintamu langsung melihat Dia


Dan hanya Dia yang bisa memandang Dia


Kau harus memahami ini, anakku


Maka, dalam dirimu hanya ada Dia,
hanya ada pancaran cahaya-Nya


Dirimu harus seperti bunga mawar yang merekah


Karena hanya saat mawar,
merekah lah akan tampak keindahan di dalamnya,
Dan tersebar bau wangi ke sekitarnya


Mawar yang tertutup,
Yang masih kuncup,
ibarat cahaya yang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa


Apalagi mawar yang masih berupa batang

Semakin jauh dari terpancarnya cahaya



Bukalah hatimu
mekarkan mawarmu



Anakku, hanya jiwa yang telah berserah diri sajalah yang akan memancarkan cahaya-Nya


Sedangkan jiwa yang masih terlalu erat memegang segala yang dicintainya,
Akan menutup cahaya itu dengan berhala filosofi, agama, istri dan harta benda


Lihat kembali, anakku
Akan pengakuanmu bahwa kau telah berserah diri


Lihat baik-baik,
teliti dengan seksama

Apakah pengakuan itu hanya pengakuan sepihak darimu?

Apakah Dia sudah membenarkan pengakuanmu?


Ketika kau bilang
"Allahu Akbar"

Apakah kau benar-benar sudah bisa melihat ke-"akbar"-an Dia dalam setiap yang kau lihat?


Jika kau masih erat mencintai berhala-berhalamu

Maka sesungguhnya jalanmu menuju keberserahdirian masih panjang


Jalanmu menuju keber-"Islam"-an masih jauh di depan


Kau masih harus membuka kebun bunga mawar yang terkunci rapat dalam hatimu


Dan hanya Dia-lah yang memegang kunci kebun itu


Mintalah kepada-Nya untuk membukanya


Lalu, masuklah ke dalam taman mawarmu


Bersihkan rumput-rumput liar di sana,
Gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau jauh-jauh ulat yang memakan daunnya


Kemudian, bersabarlah ...
Bersyukurlah ...
Dan bertawakkal-lah ...


Insya Allah,
Suatu saat,
Jika kau melakukan ini semua,
Mawar itu akan berbunga,
Lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuru istana


Semoga Allah membimbingmu, Anakku





Ada sebuah hadis yang cukup masyhur di kalangan kita, berupa doa Rasulullah Saw,

اَللّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ . وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ . وَ حُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ …

Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu… Dan kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu… Dan kecintaan kepada amal yang bisa mendekatkan diri pada kecintaan-Mu…



♥♥♥
Referensi :
Selasa, 09 Desember 2008
http://addaani2008.wordpress.com/2008/12/09/perlukan-cinta-melandasi-sebuah-pernikahan/
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar